kak naa sorry, tapi as person yang handle content creator-creator nano-micro-macro buat collab sama brand, nyatanya nggak sesimple engagement gede ajaa. tetep ada sangkut pautnya GMM, project tuh nggak bisa dilempar gitu aja dan berubah kalo keputusannya 100% ada di brand.
aktor GMM ini kan as talent dan emang dapat kerjaan dari brand, tapi soal bagi job ke artisnya, itu tetap keputusan GMM. jadi kalau protes ke GMM wajar, karena GMM yang bagi tugas, bukan brand langsung ke artisnya satu-satu.
kalau sesuai flownya gini, tapi gw nggak yakin karena nggak kerja di GMM:
1.Brand kasih brief campaign dan deal (bisa request artis tertentu, atau minta rekomendasi lewat kontak manager).
2.Manager propose list artis dan project ke internal tim.
3.Tim project ngecek artis mana yang avail schedulenya, fee, sampe match ke campaign.
4.Approval internal agency (mulai dari PIC or ke Head of).
5.Kalau projectnya gede bisa approval CEO.
6.Setelah approve, manager lanjut handle detail kontrak, atur schedule, sama koordinasi ke talent.
Brand biasanya cuma ngasih brief kerjaan (campaign), target, sama budget (misal: butuh 2 talent untuk campaign ini, target audience sama produk yang kejual segini, budget dari brand ke gmm segini), terus agency yang propose, siapa talent yang available, cocok, dan sesuai budget.
biasanya agency kasih beberapa pilihan talent, brand pilih dari opsi itu. tapi kadang-kadang, kalau budget minim, agency udah sekalian seleksi dari awal siapa yang realistis dan make sense buat join projectnya.
kecuali kalau buat long-term campaign, biasanya brand udah punya kontrak sama artis tertentu, jadi pilihan talent lebih terbatas dan budget/targetnya udah diatur dari awal di kontrak.
soal fans “banyak yg benci gmmtv” itu juga perlu dilihat kenapanya. biasanya kalau semua dibagi adil dan transparan, fans juga nggak akan ribut.
so finalnya engagement gede nggak akurat buat dijadiin patokan buat dapetin project, kita fansnya juga harus dukung pake yang bisa kita lakuin (food support, food truck, nonton series di official platform, datengin fanmet or nonton konsernya, stream mv, sampe beli merch official).
so kesimpulannya gini:
• Hashtag itu cuma alat bantu naikin exposure, bukan alat utama dapetin kontrak kerja sama bareng brand.
• Hashtag juga bisa naik kalo ada yang di hype (event, series, perayaan anniv) supaya hashtag hidup dan traffic terus grow.
• Kalau nggak ada event, hashtag yang dipake emang bisa naikin exposure tapi performanya nggak maksimal, apalagi sampe bikin brand tertarik.
jadi daripada nyalahin fans yang speak up, lebih masuk akal kalau fans yang speak up itu di support biar GMM bisa evaluasi sistem kerjanya sendiri gitu sih kak. Maap kalo ada yang salah. 🙏🏼